woman, love and life*
Ini hanya karena saya adalah perempuan. Tentu saya akan mengambil sudut pandang dari perempuan-perempuan. Perempuan single, perempuan menikah, perempuan yang ditinggal oleh cinta. saya tidak ingin menyudutkan siapa-siapa. Karena saya yakin setiap orang pernah berbuat kesalahan dalam relationship apapun. Kesalahan-kesalahan fatal. Kesalahan-kesalahan yang memberi efek negatif bukan hanya untuk diri sendiri, sayangnya untuk orang-orang lain disekitarnya.
Tidak ada yang berlebihan yang berkaitan dengan cinta. Bicara cinta, puisi cinta, lagu cinta, cerita cinta, novel cinta, baju cinta, film cinta dll. Semuanya cinta melulu. Semuanya terkadang berlebihan. Namun begitulah cinta. cinta membuat dunia menjadi lebih jujur. Hanya saja kitalah sebagai manusia yang kurang jujur. Kurang jujur ini membawa banyak cerita menderita lainnya. Mengapa manusia tak jujur, karena terkadang manusia memang susah menerima kejujuran.
Bicara tentang cinta, selalu saja panjang dan tak berujung. Namun jika bicara tentang pilihan, selalu ada persimpangan yang harus kita pilih. Yang mengikatkan kita kepada kehidupan. Yang mengingatkan kita untuk selalu awas dan bijak. Apapun pilihannya akan memberi konsekuensi, pertanyaannya mengapa manusia terkadang lupa akan konsekuensi pilihan?, yah cinta sering disebut-sebut sebagai alasan. Menjadi gendut karena cinta makanan, menjadi malas karena lebih cinta tidur, selingkuh karena mencintai orang lain selain pasangan kita. benarkah alasannya benar-benar karena cinta? bagaimana dengan keegoisan? Bukankah kita terlalu egois dan tinggi hati untuk mengakui kalau kita mencintai seseorang namun sekaligus takut menjadi tidak populer lagi. Dunia dan isinya, mengapa membuat kita tunduk?
Mengapa orang menikah? But mengapa tidak? Tidak ada yang ideal bukan? Single or menikah, punya anak dan tidak punya anak, tidak ada yang ideal bukan? Hanya masalah bertemu simpang dan kita harus memilih. tidak ada yang akan memiliki semuanya. Itu mengapa selalu ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu maha Adil. Mungkin karena memang tidak akan ada yang mampu memiliki semuanya kecuali kita mampu untuk bersyukur dengan apa yang ada. Mengapa selalu ada yang bilang “provide your own happines”, karena memang tidak dapat kita titipkan kebahagiaan ke hati seseorang, ke kendaraan –kendaraan mewah, kerumah-rumah megah atau ke anak-anak yang manis. Suatu hari semuanya akan memiliki masa kadaluarsa dan semuanya kembali menjadi datar.
Saya rindu masa lalu dimana kehidupan lebih sederhana. Orang-orang ingin menikah karena ingin bersama dengan orang yang dicintai dan mengarungi kehidupan bersama keluarganya. Tidak cepat menyerah dan penuh kesadaran akan tanggungjawab. Penuh kesadaran akan kemampuan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan bersama. Bukannya malah diam-diam menikam pasangan dari belakang. Berpura-pura mencintai, namun mengidamkan kehidupan lain. Ada yang mengidamkan pasangan lain, mengidamkan menjadi single, mengidamkan tiba-tiba menjadi ratu atau saudagar kaya raya. Kok tiba-tiba cita-cita tidak menjadi sederhana lagi. Mungkinkah kita sebagai manusia memang tak pandai belajar bersyukur?. Berniat menikah tapi kok penuh dengan muatan politik hidup.
Saya pernah mencintai seseorang, dan saya merasa inilah cinta sepanjang masa saya. Inilah cinta yang mengguncang jagad raya hati saya, tetapi mungkin karena saya memang merasa sedang diguncang. Mungkin karena saya beranggapan cinta ini besar artinya buat saya. Namun , ketika saya mencoba membalik paradigma mengenai perasaan mencintai tersebut, saya sadar kalau sesuatu menjadi besar ataupun kecil adalah sepenuhnya merupakan pilihan. Bahwa dengan kata lain semua yang saya lakukan tidak akan ada artinya jika saya tidak meletakkan perhatian yang besar disana, maka bermodalkan pengertian-pegertian tersebut, sedikit sedikit perasaan saya kembali normal dan terkendali. Tenggelam bersama rutinitas. Saya sadar mungkin saat itu saya meletakkan cinta di hati seseorang yang bukan untuk saya miliki. Saya berharap di tempat yang tidak tepat. Tapi siapa sih yang tahu tentang benar dan salah. saya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti bertanya-tanya. Memang benar, sesuatu hanya besar dan berarti karena kita memang menganggapnya besar dan berarti. Dan Cerita ini besar karena saya punya cita-cita membuatnya menjadi besar. Yang namanya manusia pasti sering salah, begitu juga saya. Saya pun mungkin salah. Akhirnya Seperti sebuah sinetron besar, dengan intrik disana sini, bagaimanapun tetap akan ada ujungnya. Setiap yang dimulai akan berakhir. Tidak perduli apakah akhirnya manis atau pahit rasanya. Terkadang ada saatnya kita menyerah dan pasrah saja.
Saya juga pernah mencintai seseorang sampai rasanya seperti bangun pagi dan harus makan makanan yang sama setiap hari. Cinta menjadi rutinitas. Dimana ada rutinitas yang terasa berlebihan, disitu kehidupan menjadi membosankan. Saya pun menjadi bosan. Saya salah? Mungkin juga. Tapi saya mencoba jujur, bagaimana hasilnya? Tetap berantakan. Manusia memang susah untuk berubah tulus dari dalam hati. Terkadang Seseorang butuh dipukul keras dalam hidupnya untuk dapat berubah. Perubahan tersebut akan membawa hal yang baru. Hal yang baru akan memecah rutinitas. Dan mungkin rasa bosan akan tertolong.
Dimasa lalu , saya mencintai seseorang dengan sebuah misi. Membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. hehehe. Itu klasik. Perempuan suka sekali membawa misi penyelamatan. Kok pada ending cerita, justru saya yang butuh diselamatkan. Intinya, cinta itu memang indah. Namun kehidupan adalah hal yang berbeda. Kehidupan tidak pernah ada yang ideal sampai kita belajar untuk mensyukurinya. Sebagai perempuan, bukan bermaksud ingin mengambil kendali, namun kami rindu akan kendali yang penuh konsekuensi dan bertanggung jawab dari pria-pria. Sebagai perempuan, tentu kami bisa bertahan sendiri. Tapi alangkah manisnya jika memiliki seorang teman yang dapat menghadapi persimpangan-persimpangan di dalam hidup ini bersama-sama. Seorang teman yang memijak bumi, bukan hanya menggunakan logika namun menggunakan hatinya.